Blog Announcement

Indonesiana - Anything about Indonesia
Gadget and Stuff - Gadget review and opinion
Destination Asia - Travel review

I hope you enjoy the new format...

Saturday, April 26, 2008

Ada F4 di Taruna Owners...

Berikut ini mengutip tulisan rekan Suer (TO17) di milis Taruna Owners


Ada F4 di Taruna Owners….

Tidak ada hubungannya dengan kelompok artis asal Taiwan. F4 ini adalah kependekan dari Friendship, Fix, Fun, dan Family yang menjadi landasan Taruna Owners dalam berbagai kegiatannya. Cikal bakal Taruna Owners dan kiprahnya dikupas habis melalui penuturan salah satu anggotanya.

Milis (mailing list) melalui internet telah mewabah diawal tahun 2000-an yang melahirkan berbagai komunitas formal dan informal. Ada yang berhubungan dengan sekolah, bisnis, advokasi, bahkan hobi di bidang otomotif. Salah satu milis otomotif yang eksis adalah milis TarunaOwners (TO) yang dibentuk tanggal 23 Oktober 2001.

Bermula dari hasrat pemuda gempal bernama Susanto yang gundah dengan mobil Taruna anyar miliknya. “Pengen cari teman senasib sepenunggangan,” katanya memberi alasan. Setelah yakin tak ada milis yang dimaksud, ia pun membuat milis dengan nama daihatsutaruna@yahoogroups.com sebagai wahana curhat.

Usahanya tak sia-sia. Tak kurang dari 200 subscriber terdaftar dalam milis dalam tempo 7 bulan. Interaksi milisi (anggota milis) di dunia maya, mulai merambah dunia nyata. Tanggal 2 Juni 2002, berkumpullah 9 milisi di Kolam Renang Senayan, yang melahirkan ide pembentukan klub dan jalan bareng.

Bak Gayung bersambut, gagasan itu disambut antusias. Hanya dalam tempo satu bulan, jalan bareng itu dirancang. Tanggal 21 Juli 2002, sebanyak 371 orang yang diangkut 90 mobil Taruna berangkat dari Sunter menuju Lido. Saat itu, pihak ATPM memberikan dukungan yang cukup berarti untuk memeriahkan acara dan pembentukan Daihatsu Taruna Club.

Dua bulan kemudian, ternyata ATPM memandang klub dengan sebelah mata, bahkan mencoba mendikte. Para punggawa milisi memutuskan mengganti nama klub dengan Taruna Owners (TO). Logo baru dan semangat baru itu membawa TO menjadi organisasi yang independen, sebagai wadah berbagi informasi kepada para pemilik dan pengguna Daihatsu Taruna. Identitas klub berupa stiker, cover ban, kemeja, kaos, dan kartu anggota segera dibuat, termasuk situs web http://www.taruna.or.id/.

TO melakukan konsolidasi untuk menata keanggotaan. “Cukup mengisi formulir yang dapat didownload di situs TO, plus fotokopi STNK dan SIM tanpa ada biaya pendaftaran”, papar Rizky yang didaulat menjadi Ketua TO sejak 2004. Sebuah kantor milik anggota di daerah Pondok Pinang dijadikan Sekretariat TO. Lapangan parkir kolam renang Senayan menjadi tempat nongkrong resmi. Ajang saling intip kendaraan di Senayan seringkali berlanjut dengan tukar menukar suku cadang atau asesoris.

Komunikasi via milis, telepon, dan obrolan di tempat nongkrong, menghasilkan kegiatan Jalan-jalan Bareng (JJB) ke Pelabuhan Ratu pada tanggal 1-2 Maret 2003. Sejak itu, TO merambah ke Taman Nasional (TN) Way Kambas, Pangrango, TN Gunung Halimun, Ciwidey, Gunung Bromo, TN Ujung Kulon, Gunung Pancar, Gunung Bunder, Anyer, Wado, Gunung Mas, Taman Safari, Garut, dan Yogyakarta.

“Nggak sekedar jalan-jalan lho, TO juga melakukan bakti sosial ke panti asuhan dan penduduk di lokasi JJB”, jelas Ais yang menjabat Kordinator Bidang Sosial.

Setelah memiliki AD/ART dan pengurus formal, TO mendaftar sebagai anggota Ikatan Motor Indonesia (IMI) DKI dengan nomor 108. Anggota terus bertambah hingga mencapai 500 orang yang tersebar di Jabotabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Makassar, Pontianak, Medan, Riau, Jambi, dan Palembang.

Minat Taruners, sebutan untuk anggota TO, mulai terbentuk. Ada yang memodifikasi mobilnya ke arah ALTO, SUV, Street Machine, Fashion, dan ada pula yang mempertahankan bentuk standar. “Tapi kita tetap mengutamakan safety lho,” ujar Hatar, Korbid Teknis TO dengan mimik serius.

Daerah light off road seperti Gunung Halimun, Pondok Cabe, dan Sentul pun dijajal dengan ban ukuran 235, 30”, dan 31”. Taruna terlihat makin sangar. Berbagai kiprah TO, terekam dalam belasan artikel di tabloid dan majalah otomotif. Bahkan TO sempat empat kali menghiasi layar kaca.

Berkat partisipasi aktif dari Taruners, TO juga mengembangkan kemitraan yang saling menguntungkan dengan 8 bengkel di Jakarta dan Bandung, bengkel spooring dan pencucian mobil. Kerjasama dengan lembaga lain juga berjalan mulus. Misalnya bagi-bagi Sembako bersama Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan Festival Hijau BSD bersama masyarakat Bumi Serpong Damai.

Seringnya jalan bareng, melahirkan kebutuhan baru berupa alat komunikasi untuk kordinasi selama perjalanan. “Dulu kita menggunakan FRS, tapi sekarang sudah mengandalkan HT dan Rig,” jelas Yoyon yang mempelopori penggunaan alat komunikasi bebas biaya itu. Tak kurang dari 35 Taruners telah memiliki alat komunikasi berupa HT atau Rig. Untuk perijinan, mereka mendaftarkan diri menjadi anggota RAPI.

“Sekarang, kita nggak be-te lagi menghadapi macetnya lalin karena bisa ngobrol dengan Taruners lain lewat radio,” kata Frenky yang mobilnya selalu kinclong.

Semua kegiatan itu dilakukan dengan filosofi F4 (friend, fix, fun, family). Taruners mencari sahabat (Friend) untuk atasi berbagai masalah mobil (Fix) sambil bersenang-senang (Fun) bersama keluarga dan sebagai keluarga (Family). Partisipasi anggota bukanlah sebuah paksaan karena TO tidak boleh mengganggu keluarga apalagi urusan dapur dan dompet. Taruners terus menggelinding sambil mengukir persahabatan di sela rutinitas kantor.

Suer- ID 17

Friday, April 25, 2008

Olympiade China : Politik atau Prestasi

Olympiade kali ini memang banyak kontroversi. Hampir di setiap negara di mana api olympiade singgah (termasuk di Indonesia) selalu dibarengi dengan unjuk rasa menentang penindasan hak-hak asasi di China atau menuntut dimerdekakannya Tibet.

Bahkan Presiden Perancis pun, Sarkozy, sampai mengancam akan memboikot acara pembukaan Olympiade, akibatnya retailer raksasa Carrefour di China gantian diboikot oleh penduduk China yang merasa tersinggung dengan ulah Sarkozy.

Yang menjadi bahan perdebatan sekarang ialah apakah olympiade harus dikaitkan dengan politik ataukah murni olah raga?

Secara ideal, sesuai dengan PMP dan nilai2 sportifitas yang kita pelajari di SD, SMP dan SMA, mestinya olympiade ialah murni kegiatan olah raga, dan lepas dari politik.

Namun setelah dipikir2, saya menjadi sadar sekarang bahwa ternyata olympiade itu tidak bisa lepas dari politik selama para atlit yang bertanding menyandang bendera dan lambang dari negara masing2. Selama lagu kebangsaan masih dikumandangkan, olympiade tidak bisa dipisahkan dengan politik antar negara, dan adalah naif untuk mengatakan bahwa olympiade ialah kegiatan murni olahraga.

Partisipasi suatu negara menyatakan pengakuan negara tersebut atas eksistensi sekaligus persetujuan atas sikap politik tuan rumah. Taruhlah misalnya (misal doang nih, bukan beneran lho) Malaysia, kurang puas menyabot pulau Sipadan, lalu tahun 2011 nekat menyabot pulau Batam. Kemudian tahun 2012 Malaysia terpilih sebagai tuan rumah Olympiade, apakah Indonesia akan tetap mengirim kontingen?

Friday, April 18, 2008

Subsidi BBM & Harga Minyak Mentah

Pagi ini running text di CNN mengabarkan bahwa harga minyak mentah dunia mencapai rekor harga tertinggi pada US 115/barrel atau sekitar Rp 6900/liter mentah (dengan nilai tukar 1 US = Rp 9500). Kalau sudah diolah menjadi bensin Premium plus pajak dan transport (Pertamina umumnya membeli crude dari MOPS, Singapore) harganya menjadi Rp 8500/liter. Kalau saat ini Pertamina masih menjual Premium seharga Rp 4500/liter artinya Pemerintah bakal nombok Rp 4000/liter.

Memang kalau dibandingkan dengan negara2 utama OPEC, harga bensin bersubsidi di Indonesia masih lebih mahal, misalnya di UAE bensin dijual US 1.73/gal atau Rp 4325/liter, di Qatar US 1.14/gal atau Rp 2850/liter dan di Arab Saudi US 1.27/gal atau Rp 3175/liter.

Kalau di negara non OPEC seperti Thailand, harga bensin setara Premium saat ini sekitar 31B/liter (Rp 8500/liter), mirip dengan estimasi saya akan harga 'asli' Premium di Indonesia.

Masalahnya ialah, perekonomian Indonesia tidaklah sesolid dan sekuat negara OPEC lainnya (well except Iraq perhaps). Silakan simak buku "Confessions of an Economic Hit Man" -nya John Perkins, anda akan tahu bagaimana pondasi ekonomi Indonesia selama Orde Baru dibangun atas hutang2 luar negeri dengan prediksi pertumbuhan ekonomi yang sangat dilebih-lebihkan melampaui batas kemampuan negeri ini untuk melunasinya, belum termasuk faktor-faktor korupsi dan penyelewengan dana lainnya.

Saya termasuk orang yang pragmatis, mungkin terkesan kurang idealis, tapi dengan kondisi seperti ini, di mana Pemerintah mensubsidi hampir 50% dari harga bensin, sama saja dengan meninabobokan masyarakat, menyimpan bom waktu yang sewaktu-waktu akan meledak dengan dahysat


Thursday, April 17, 2008

Tanggapan Atas Sanggahan Atas Ucapan Enda (The So Called Bapak Blog)

Malam ini saya iseng-iseng Googling untuk mencari situs2 blog Indonesia, eh kok pada halaman pertama dari hasil pencarian tampil situs blog salah satu perintis blogger di Indonesia, Enda Nasution (link ke situs blog Enda ada di halaman ini). Setelah di klik-klik lebih lanjut, saya jadi tertarik pada salah satu link yang merujuk kepada posting dalam blog rekan Rony yang berjudul "Sanggahan atas ucapan Enda (The so called Bapak Blog)".

Posting Rony tersebut merupakan tanggapan atas komentar Enda dalam wawancara dengan media menanggapi Roy Suryo yang mengatakan bahwa ada korelasi antara hacker, cracker dan blogger.

Setelah membaca posting Rony, saya sebagai blogger pemula yang masih minim Ilmu Komunikasi jadi tergerak untuk memberi komentar sbb :

Entah kenapa dalam sanggahan tersebut rekan Rony menyebut nama Enda secara eksplisit, sementara nama Roy Suryo hanya disebut sebagai "seseorang", padahal baik Roy Suryo dan Enda keduanya adalah tokoh utama dalam bahasan tersebut sehingga kalau kita tidak memahami awal masalahnya akan menjadi salah paham.

Walaupun topik utama dalam sanggahan tersebut adalah Enda, namun Rony juga banyak mengungkapkan ketidaksetujuannya atas pendapat Roy Suryo antara lain tentang polarisasi blogger. Sayangnya paragrah2 dalam sanggahan tersebut tersusun sedemikian rupa sehingga tidak menjadi jelas mana yang merupakan pendapat Roy Suryo dan mana yang merupakan reaksi Enda terhadap Roy Suryo, seolah-olah semua itu ialah pendapat dari Enda, memberikan kesan bahwa Enda lah yang memberikan semua komentar negatif tentang blogger.

Kalau saya tidak salah mengerti, dalam posting tersebut ada dua hal pokok dari Enda yang tidak Rony setujui, yaitu :

1) Ungkapan bahwa semua blogger itu positif

Saya setuju dengan Rony bahwa blogger itu ya blogger dan tidak perlu diberi embel2 predikat lain, namun saya pun sangat setuju dengan Enda bahwa seperti halnya dengan profesi pengarang, pelukis, penulis, sutradara, karyawan, dokter, penyair, wartawan dll, secara umum blogger itu berkonotasi positif. Lain halnya dengan profesi pencuri, penadah, penipu, koruptor dll yang secara umum berkonotasi negatif. Walaupun ada juga situs2 blogger porno yang mencari untung dengan iklan, seperti juga halnya ada juga karyawan yang mencuri atau dokter yang menipu, namun secara umum masyarakat setuju bahwa semua profesi karyawan atau dokter ialah positif. Jadi saya rasa tidak ada yang salah dengan perkataan Enda dan tidak ada yang perlu diralat sama sekali. Kalau pun ada, perkataan Roy Suryo lah yang perlu diralat, bukan Enda.

2) Rekan jurnalis harus berhati-hati (dalam hal mengutip perkataan seseorang)

Maaf, saya sungguh amat bodoh, saya tidak dapat mengerti mengapa dalam konteks ini statement Enda bisa salah. Bahkan menurut saya dalam konteks apapun tanpa kecuali rekan jurnalis harus selalu berhati-hati dalam mengutip perkataan seseorang. Semua orang tahu bahwa komunikasi verbal dapat memiliki makna yang berbeda (bertanya, marah, mengiyakan dsb), tergantung intonasinya (ya, saya bicara tentang bahasa Indonesia, bukan bahasa tonal seperti bahasa Thailand atau Mandarin!!) .

Kutipan verbatim dari seseorang tanpa disertai keterangan konteks dan nada bicara bisa menimbulkan salah persepsi! (ya, saya bilang verbatim, apalagi salah kutip!!). Ungkapan langsung yang ditulis begitu saja apa adanya, mengingat yang namanya manusia bisa salah ucap (my old boss often do that) dan kesleo ngomong, ya kalau tidak berhati-hati mencermati maksud si pembicara bisa menimbulkan kesalahpahaman kalau tidak dikonfirmasi ulang (is that what you really mean?). Keimanan yang saya yakini mengajarkan manusia untuk selalu mempertimbangkan akibat baik dan buruk bagi masyarakat umum dari sesuatu yang kita lakukan. Berdasarkan hal ini, jurnalis sejati selalu mengedepankan kebenaran demi kebaikan umum, alih-alih sensasi panas yang menimbulkan keresahan masyarakat akibat berita yang tidak direkonfirmasi atau dimuat tidak lengkap. Dalam konteks ini saya berharap para jurnalis selalu mengkonfirmasi statement kontroversial dari sumber berita sebelum melakukan publikasi.

Hak jawab memang ada, tapi tidak dimaksudkan bahwa para jurnalis boleh untuk tidak berhati dalam membuat suatu berita, seperti anekdot tentang polisi amerika dalam film2 action hollywood, "shoot first, ask later..."

Penutup
Secara umum saya setuju dengan Rony bahwa blog ialah media opini independen dan merdeka, saya pun juga berpendapat bahwa Enda pun memiliki pandangan yang sama dengannya, jadi saya yang tidak punya ilmu komunikasi belum dapat memahami mengapa Rony begitu keras menyanggah komentar dari Enda..

Saturday, April 5, 2008

Smart Card dan Pembatasan BBM

Akibat terus melambungnya harga minyak mentah (Crude Oil) dari kisaran 70 US/barrel pada April tahun lalu hingga menembus 100 US/barrel April ini membuat Pemerintah harus menghitung ulang subsidi BBM yang harus dikeluarkan.

Pada prinsipnya saya setuju dengan pembatasan BBM (baca: Premium) dan perlunya upaya-upaya penyelamatan agar subsidi BBM tidak kian membengkak. Namun saya tidak setuju jika mekanisme pembatasan dilakukan dengan menggunakan smart card karena solusi ini terlalu kompleks (baca: hi tech) dan bahkan bisa jadi akan menelan biaya yang lebih mahal dari penghematan yang diharapkan.

Kalau saya analogikan, pemberian smart card untuk pembatasan BBM serupa dengan menganggarkan Rp 22juta untuk laptop para anggota DPR. Bukannya saya ngiri sama Tukul, tapi Rp 22juta untuk sebuah laptop adalah keterlaluan, kalau memang para anggota DPR itu butuh laptop, ya mbok dibelikan saja yang pantas, seharusnya merk dalam negeri (zyrex, wearness, axioo dll), apalagi pembelian dalam partai besar, pasti di bawah Rp 10juta sudah dapat yang lebih dari cukup (as if they know the difference between celeron, centrino, dual core and core 2 duo).

Ketika saya masih kuliah, dosen-dosen saya selalu berkata, pakailah prinsip KISS - Keep It Simple, Stupid dalam setiap perancangan, seperti dalam 2 anekdot berikut ini.

Ketika salah satu perusahaan kosmetika ternama di Jepang mendapat komplain dari salah satu pelanggannya yang membeli kemasan yang ternyata tidak berisi produk, maka sang chief engineer perusahaan tersebut bekerja keras siang malam untuk mendesain online x-ray scanner yang dapat mendeteksi kemasan yang tidak terisi produk langsung pada packing line dengan biaya ratusan ribu yen. Sementara salah satu operator menemukan ide yang tepat guna dan jauh lebih sederhana dengan meletakkan sebuah kompresor udara di samping konveyor yang akan secara otomatis meniup jatuh kemasan yang tidak berisi produk.

Ketika NASA mengeluarkan biaya jutaan dolar untuk mengembangkan zero gravity pen, Rusia memilih menggunakan pensil.

So, saya tidak mempermasalahkan pembatasan BBM itu sendiri, melainkan mekanismenya. Teknologi sejenis smart card seperti RFID atau proximity card akan lebih berdaya guna kalau diterapkan sebagai mekanisme pembayaran jalan tol, sehingga mempercepat antrian sehingga mengurangi kemacetan seperti yang sudah diterapkan di Singapura (ERP - Electronic Road Pricing) dan Malaysia (ETC - Electronic Toll Collection).

Dua faktor utama yang signifikan ialah jumlah pemakai dan jumlah stasiun transaksi yang harus disediakan masih dapat dikelola, diawasi dan dirawat secara mudah. Secara teori, tidak semua pengendara mobil di Indonesia rutin melewati jalan tol dibandingkan jumlah pengendara yang harus dibatasi penggunaan Premium-nya, dan jumlah pintu tol di Indonesia pun masih jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah SPBU-nya.

Lalu bagaimana cara membatasi pemakaian BBM? (baca blog saya berikutnya....)

Tukeran Blog link Yuk! Tulis alamat Blog mu di Buku Tamu (kolom sebelah kanan) kalau kita sependapat, maka Situs Blog mu akan dicantumkan di halaman ini.